http://www.youtube.com/watch?v=rrwNCbIjv4I&feature=youtu.be
Kamis, 20 Desember 2012
Andi Usraeni. 1252132010. PEnyalagunaan Narkotika
http://www.youtube.com/watch?v=RW_geqU_udY&feature=youtu.be
Nur Arsyi Kurnaeni Syam BE A - 1252132036
http://www.youtube.com/watch?v=3SHroNmTGIg&feature=youtu.be
nurananingsih. 1252132022. Pengaruh Globalisasi
http://www.youtube.com/watch?v=nSDZQ1rFh0M&feature=youtu.be
Arman Saputra. 1252132034. Bahaya tentang rokok
http://www.youtube.com/watch?v=91sT6TyS0mM&feature=youtu.be
Rabu, 19 Desember 2012
Sabtu, 01 Desember 2012
Makalah Membaca Kritis Untuk Meenulis
|
NAMA
: HARISNAWATI
NIM :1252132026
|
MEMBACA KRITIS UNTUK MENULIS
“Membaca
merupakan kegiatan yang sangat menunjang kegiatan menulis. Dengan banyak
membaca, kita akan mempunyai banyak informasi dan pengetahuan yang tidak kita
dapat dari pengalaman sehari-hari. Dengan banyak membaca, kita juga akan banyak
mendapat gagasan yang berguna untuk tulisan kita. Tulisan yang baik memberikan
pengetahuan bagi pembacanya. Oleh karena itu, kalau kita ingin menghasilkan
tulisan yang baik, kita perlu banyak membaca. Tidak mengherankan bahwa penulis
yang baik umumnya banyak membaca”. (Jahrir:2012:89)
Selain itu, membaca juga adalah suatu proses yang
dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh informasi yang disampaikan
oleh penulis melalui media kata-kata maupun bahasa tulisan. Dalam membaca
dikenal jenis membaca telaah isi yang memiliki pengertian yaitu membaca dengan
cara meneliti bahan yang tersedia dengan tidak mengesampingkan ketelitian,
pemahaman, serta kekritisan dalam berpikir. Membaca kritis sangat relevan
dengan kehidupan kita sekarang sebagai pelajar yang dituntut untuk menambah
wawasan dan mengembangkan ilmu. Oleh sebab itu, belajar ini tentu akan sangat
bermanfaat karena kita akan dapat memanfaatkan hasil pembacaan kita yang
cermat. Berdasarkan hal itulah hakikat membaca kritis ini merupakan kgiatan
belajar yang penting dan wajib dikuasai oleh pelajar maupun mahasiswa. Melalui
kegiatan belajar ini, kita sebagai pelajar dibekali dengan kompetensi yang
berkenaan dengan kemampuan untuk menerapkan metode membaca kritis untuk menulis.(Jahrir:2012:90)
a.
Pengertian
Membaca Kritis
Membaca
kritis adalah kegiatan yang dilakukan dengan bijaksana, penuh tenggang rasa,
mendalam, evaluatif, serta analitis, dan bukan ingin mencari kesalahan penulis
tetapi berusaha memahami makna tersirat dari sebuah bacaan yang telah dibaca.
Dalam membaca kritis, pembaca mengolah bahan bacaan secara kritis. Membaca
kritis melibatkan, mempertanyakan dan mengevaluasi apa yang penulis katakan,
dan membentuk pendapat Anda sendiri tentang apa yang penulis katakan di dalam
tulisannya. (Jahrir:2012:90)
Membaca
kritis adalah membaca yang bertujuan untuk mengetahui fakta-fakta yang terdapat
dalam bacaan kemudian memberikan penilaian terhadap fakta itu.. Pembaca tidak
hanya sekedar menyerap masalah yang ada, tetapi ia bersama-sama penulis
berpikir tentang masalah yang dibahas. Membaca kritis berarti harus membaca
secara analisis dan dengan penilaian (Agustina
2008:124).
Membaca
kritis adalah kemampuan memahami makna yang tersirat pada sebuah bacaan. Untuk
itu, diperlukan kemampuan berpikir dan bersikap kritis. Dalam membaca kritis,
pembaca dapat pula mencamkan lebih dalam apa yang dibacanya dan diapun akan
mempunyai kepercayaan diri yang lebih mantap daripada kalau dia membaca tanpa
usaha berpikir secara kritis. Oleh
karena itu, membaca kritis harus menjadi ciri semua kegiatan membaca yang
bertujuan memahami isi bacaan sebaik—baiknya. (Jahrir:2012:90)
“Berdasarkan uraian di atas, dalam
membaca kritis tidak hanya sekedar memahami isi bacaan tetapi melibatkan emosi
pembaca, sehingga pembaca mampu menganalis dan memberikan penilaian. Dalam
penerapan peningkatan membaca mahasiswa maupun siswa-siswa diharapkan tidak
hanya sekedar memahami isi bacaan tetapi juga mampu menganalisis dan memberi
penilaian. Yang lebih penting dalam kegiatan membaca adalah menangkap pesan
atau ide pokok bacaan dengan baik”.(Jahrir:2012:91)
Keterampilan
membaca kritis adalah proses penelitian dan evaluasi teks yang tidak hanya
sekedar menginterpretasi teks tertulis. Konsekuensi pembaca kritis mempunyai
beberapa karakteristik, pembaca mampu memahami dengan bertanya, menganalisis,
dan mengevaluasi. Pembaca kritis mencoba memecahkan masalah; juga mampu
membedakan antara fakta dan opini-opini.
(Jahrir:2012:91)
Kegiatan
membaca kritis untuk menulis pada dasarnya merupakan kegiatan membaca untuk
mendapatkan informasi yang relevan untuk tulisan yang akan dikembangkan. Dengan
demikian, kegiatan membaca kritis untuk menulis harus dikaitkan dengan
informasi seperti apa yang kita masukkan dalam tulisan kita, apakah informasi
umum, khusus, atau informasi yang terperinci. Jenis tulisan yang kita baca
berisi informasi yang berbeda. Informasi yang kita dapatkan dari tulisan
popular, misalnya, berbeda dengan informasi yang kita dapatkan dari tulisan
ilmiah. (Jahrir:2012:92)
“Membaca kritis menghendaki kita untuk
tidak menerima begitu saja kebenaran informasi yang didapatkan. Kita selalu
bersikap skeptis, bertanya terus-menerus dan berusaha mencari bukti untuk
menguji kebenaran informasi tersebut. Pengujian itu biasa dilakukan dengan
mencari informasi pada sumber-sumber yang lain. Oleh karena itu, membaca kritis
memerlukan ketekunan dan kesabaran”.
(Jahrir:2012:92)
b.
Ada
tiga kegiatan yang terdapat dalam membaca kritis
1.
Membaca Dengan Berpikir hendaknya
memikirkan persoalan-persoalan atau fakta-fakta yang ditampilkan dalam bacaan.
Pembaca memikirkan maksud dan tujuan penulis mengemukakan fakta-fakta tersebut.
Tujuan pembaca dengan cara berpikir ini supaya pembaca dapat menentukan
batasab-batasan dari persoalan-persoalan atau fakta-fakta yang dikemukakan oleh
pengarang.” (Sutrisno;
2012)
2.
Membaca Dengan Menganalisis merupakan
kunci membaca kritis. Dengan menganalisis pembaca dapat mengetahui apakah
gagasan atau fakta-fakta yang dikemukakan pengarang sungguh di sokong oleh
detail-detail yang diberikannya atau tidak. Pembaca selanjutnya dengan cara itu
akan dapat memisah-misahkan mana detail-detail yang penting, mana detail yang
cocok dan detail yang tidak cocok. (Sutrisno; 2012)
3.
Membaca Dengan Penilaian. Tugas pembaca
kritis adalah menilai fakta atau pernyataan yang dapat menyokong gagasan pokok
yang dikemukakan. Pembaca harus sanggup menentukan apakah fakta yang dibacanya
ada hubungannya satu dengan yang lainnya atau mungkin pembaca nenemukan dua
atau lebih fakta yang seharusnya dipandang sebagai fakta yang terpisah.
Akhirnya pembaca menentukan penilaian terhadap fakta-fakta yang disajikan oleh
penulis. (Sutrisno; 2012)
c. Untuk membantu pengembangan
kemampuan membaca kritis, berikut ini pertanyan-pertanyaan yang dapat diajukan:
1. “Apa yang ingin disampaikan penulis?
- Tentang apakah tulisan yang kita baca?
- Mengapa penulis ingin menulis hal itu?” (Sugiono:2010:15)
- Tentang apakah tulisan yang kita baca?
- Mengapa penulis ingin menulis hal itu?” (Sugiono:2010:15)
2. “ Apa alasan penulis?
Selain mengetahui apa yang sedang dibaca, perlu juga
diketahui alasan yang mendorong penulis menuliskannya dalam sebuah tulisan. Selain
itu perlu juga mengatahui sudut pandang penulis melalui alasan yang dibuat atau
upaya penulis untuk meyakinkan pembacanya berpikir agar pembaca percaya.Alasan
tersebut dapat ditemukan dengan mudah atau sulit karena dapat terletak di awal,
tengah, akhir, ataupun menyebar di berbagai tempat atau paragraf.” (Sugiono:2010:15)
3. “Apa ada alasan atau sudut pandang
yang berbeda?
Pembaca kritis harus memulai dari keyakinan bahwa pasti ada alasan berbeda dari alasan pengarang.Semua itu untuk meyakinkan pembaca mengapa alasan tersebut tidak memadai atau bahkan salah.Tetapi terkadang tidak mengemukakan alasan alternatif, sehingga pembaca harus mencari sendiri.” (Sugiono:2010:15)
4. “Apakah bukti yang ditampilkan
penulis?
Alasan yang kuat merupakan cara
meyakinkan pembaca. Tetapi, pembaca terkadang tidak cukup diyakinkan hanya
dengan alasan semata, melainkan harus dengan bukti-bukti yang mendukung alasan
misalnya; pengalaman, logika, emosi, sejarah, pernyataan ahli atau pakar, dsb.”
(Sugiono:2010:15)
5. “Apakah bukti yang ditampilkan
penulis sangat mendukung?
Bukti-bukti yang ditampilkan penulis
tidak selalu mendukung.Sebagai pembaca kritis, harus mencoba memahami upaya
penulis untuk mendukung alasan dengan bukti-bukti yang mendukung sudut pandang
obyektif, tidak langsung melalui sudut pandang kita sendiri.Misalnya; apakah
bukti yang disampaikan masuk akal?Jika bukti berupa fakta, apakah bukti
tersebut dapat diandalkan?Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah data
statistik memperkuat alasan dan mendukung bukti lain yang diajukan penulis?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak mudah untuk dijawab, bahkan pembaca
kritis dituntut berpikir keras untuk melakukannya.” (Sugiono:2010:15)
6. “Apa pendapat kita?
Setelah
semua proses di atas selesai, bagian akhir yang tidak kalah pentingnya adalah
pendapat kita terhadap tulisan yang dibaca. Setelah memahami alasan penulisan
dan bukti-bukti yang diajukan penulis, saatnya melihat pandangan kita.Apakah
penulis berhasil meyakinkan kita dengan mengacu pada bukti-bukti. Pada awal tulisan,
kita sepaham dengan gagasan penulis tetapi hingga akhir tulisan yang dibaca,
kita menyimpulkan bahwa penulis tidak dapat memenuhi apa yang dijanjikannya.
Sebagai pembaca kritis, tidak perlu menyesal telah membaca suatu tulisan karena
tidak paham, sebab dalam membaca tulisan ada tulisan yang isinya kurang bagus
dan juga cara penyajiannya juga membingungkan pembacanya.”(Sugiono:2010:15)
DAFTAR PUSTAKA
Agustina.
2008. Pembelajaran Keterampilan Membaca.
Padang: Unp Press
http://www.scribd.com/doc/40537099/Hakikat-Membaca-Kritis diunduh tanggal 6 Januari 2012
http://www.scribd.com/doc/40537099/Hakikat-Membaca-Kritis diunduh tanggal 6 Januari 2012
Jahrir, Andi Sahtiani.2012:89-92.Penggembangan Kepribadian Bahasa Indonesia.
Sutrisno, Wigi 2012 http://www.scribd.com/doc/40537099/Hakikat-Membaca-Kritis
KATA PENGHUBUNG ANTARKALIMAT DAN INTRAKALIMAT
NAMA : DEWI REZKI
NIM : 1252132018
Kata Penghubung Intrakalimat dan Antarkalimat
Kata penghubung adalah kata
yang menghubungkan dua atau lebih kelompok kata agar maknanya berkaitan.Ada
2 jenis kata penghubung,yaitu intrakalimat dan antarkalimat;
1. Kata Penghubung Intra Kalimat ( Antar Klausa)
Adalah kata yang menghubungkan klausa induk dan klausa anak.
1. Kata Penghubung Intra Kalimat ( Antar Klausa)
Adalah kata yang menghubungkan klausa induk dan klausa anak.
A.
Konjungsi Antarkalimat
Konjungsi antarkalimat adalah
konjungsi yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Oleh karena
itu, konjungsi ini selalu memulai satu kalimat yang baru dan huruf pertamanya
ditulis dengan huruf Kapital.
Macam-macam konjungsi antarkalimat :
1.
Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat
sebelumnya, seperti biarpun demikian/begitu, sekalipun demikian/begitu, sesungguhnya
demikian/begitu, walaupun demikian/begitu, dan meskipun demikian/begitu.
Contoh : Saya tidak suka dengan cara
dia berbicara. Walaupun demikian, saya harus tetap menghormatinya.
2.
Konjungsi yang menyatakan lanjutan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat
sebelumnya, seperti sesudah itu, setelah itu, dan selanjutnya.
Contoh : Untuk hari ini, yang akan
saya pelajari pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah itu, saya
akan belajar Matematika.
3.
Konjungsi yang menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari
yang telah dinyatakan sebelumnya, seperti tambahan pula, lagi pula, dan
selain itu.
Contoh : Kami menyambut tahun baru
dengan kemeriahan kembang api. Selain itu, suara terompet juga ikut
menambah semaraknya suasana tahun baru.
4.
Konjungsi yang menyatakan kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya, seperti sebaliknya.
Contoh : Janganlah kita membuang
sampah di sungai ini! Sebaliknya, kita harus menjaganya agar tetap
bersih untuk mencegah terjadinya banjir.
5.
Konjungsi yang menyatakan keadaan yang sebenarnya, seperti sesungguhnya dan
bahwasanya.
Contoh : Temanku mengalami
kecelakaan tadi siang. Sesungguhnya, aku sudah mencegahnya untuk tidak
mengendarai sepeda motor saat hujan tadi siang.
6.
Konjungsi yang menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya, seperti malahan
dan bahkan.
Contoh : Penduduk di Indonesia
banyak yang mengalami masalah ekonomi. Bahkan, ada penduduk yang sampai
bunuh diri karena masalah ekonomi tersebut.
7.
Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan keadaan sebelumnya, seperti namun
dan akan tetapi.
Contoh : Situasi di desa kami sudah
cukup aman setelah terjadi gempa tadi pagi. Akan tetapi, pihak yang
berwenang menyuruh warga agar tetap waspada karena ada kemungkinan terjadinya
gempa susulan.
8.
Konjungsi yang menyatakan konsekuensi, seperti dengan demikian.
Contoh : Kamu telah terpilih menjadi
ketua kelas bulan ini. Dengan demikian, kamu harus menjalani tugasmu
dengan sebaik-baiknya.
9.
Konjungsi yang menyatakan akibat, seperti oleh karena itu dan oleh
sebab itu.
Contoh : Aku sudah melarangnya untuk
melakukan hal itu. Oleh karena itu, biarkan saja dia merasakan
akibatnya.
10. Konjungsi yang menyatakan
kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya, seperti sebelum itu.
Contoh : Sukanto telah berhasil
memecahkan rekornya sendiri dalam ajang SEA Games tahun ini. Sebelum itu, dia
juga pernah memecahkan rekor atas namanya sendiri pada ajang SEA Games tiga
tahun yang lalu.
2. Kata Penghubung Antar Kalimat
Adalah kata yang menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya. Dalam penggunaanya, kata penghubung antar kalimat menyatakan makna yang berbeda-beda, daintaranya : oleh karena itu, sebelim itu, namun, akan tetapi, kecuali itu, dengan demikian, sesudah itu, selain itu, sebaliknya.
Contoh :
a. Anton sering makan terlambat, oleh karena itu, dia menderita sakit lambung.
b. Anak kecil itu tidak menghiraukan teriakan ibunya. Sebaliknya, dia malah asyik bermain.
c. Mereka makan di restoran. Sebelum itu, mereka nonto di bioskop
Adalah kata yang menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya. Dalam penggunaanya, kata penghubung antar kalimat menyatakan makna yang berbeda-beda, daintaranya : oleh karena itu, sebelim itu, namun, akan tetapi, kecuali itu, dengan demikian, sesudah itu, selain itu, sebaliknya.
Contoh :
a. Anton sering makan terlambat, oleh karena itu, dia menderita sakit lambung.
b. Anak kecil itu tidak menghiraukan teriakan ibunya. Sebaliknya, dia malah asyik bermain.
c. Mereka makan di restoran. Sebelum itu, mereka nonto di bioskop
1. Kata dan
Frasa yang Diikuti Koma
Ada sejumlah
kata/frasa penghubung antarkalimat dalam bahasa Indonesia yang diikuti tanda
koma jika digunakan pada awal kalimat. Kata-kata dan frasa-frasa tersebut
didaftarkan berikut ini.
Agaknya, ...
Akan tetapi, ...
Akhirnya, ...
Akibatnya, ...
Artinya, ...
Biarpun begitu, ...
Biarpun demikian, ...
Berkaitan dengan itu, ...
Dalam hal ini, ...
Dalam hubungan ini, ...
Dalam konteks ini, ...
Dengan demikian, ...
Dengan kata lain, ...
Di samping itu, ...
Di satu pihak, ...
Di pihak lain, ...
Jadi, ...
Jika demikian, ...
Kalau begitu, ...
Kalau tidak salah, ...
Kecuali itu, ...
Lagi pula, ...
Meskipun begitu, ...
Meskipun demikian, ...
Namun, ...
Oleh karena itu, ...
Oleh sebab itu, ...
Pada dasarnya, ...
Pada hakikatnya, ...
Pada prinsipnya, ...
Sebagai kesimpulan, ...
Sebaiknya, ...
Sebaliknya, ...
Sebelumnya, ...
Sebenarnya, ...
Sebetulnya, ...
Sehubungan dengan itu, ...
Selain itu, ...
Selanjutnya, ...
Sementara itu, ...
Sesudah itu, ...
Setelah itu, ...
Sesungguhnya, ...
Sungguhpun begitu, ...
Sungguhpun demikian, ...
Tambahan lagi, ...
Tambahan pula, ...
Untuk itu, ...
Walaupun demikian, ...
Akan tetapi, ...
Akhirnya, ...
Akibatnya, ...
Artinya, ...
Biarpun begitu, ...
Biarpun demikian, ...
Berkaitan dengan itu, ...
Dalam hal ini, ...
Dalam hubungan ini, ...
Dalam konteks ini, ...
Dengan demikian, ...
Dengan kata lain, ...
Di samping itu, ...
Di satu pihak, ...
Di pihak lain, ...
Jadi, ...
Jika demikian, ...
Kalau begitu, ...
Kalau tidak salah, ...
Kecuali itu, ...
Lagi pula, ...
Meskipun begitu, ...
Meskipun demikian, ...
Namun, ...
Oleh karena itu, ...
Oleh sebab itu, ...
Pada dasarnya, ...
Pada hakikatnya, ...
Pada prinsipnya, ...
Sebagai kesimpulan, ...
Sebaiknya, ...
Sebaliknya, ...
Sebelumnya, ...
Sebenarnya, ...
Sebetulnya, ...
Sehubungan dengan itu, ...
Selain itu, ...
Selanjutnya, ...
Sementara itu, ...
Sesudah itu, ...
Setelah itu, ...
Sesungguhnya, ...
Sungguhpun begitu, ...
Sungguhpun demikian, ...
Tambahan lagi, ...
Tambahan pula, ...
Untuk itu, ...
Walaupun demikian, ...
B.
Konjungsi Intrakalimat
Konjungsi
intrakalimat atau konjungsi antarklausa adalah konjungsi yang menghubungkan
satuan-satuan kata dengan kata, frasa dengan frasa, dan klausa dengan klausa.
Konjungsi ini dibagai menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Konjungsi
koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang
memiliki status sintaktis yang sama. Konjungsi ini juga bisa disebut dengan
konjungsi setara.
Macam-macam konjungsi koordinatif :
a)
Konjungsi yang menyatakan penambahan, seperti dan.
Contoh : Aku membeli novel dan
adikku membeli buku pelajaran.
b)
Konjungsi yang menyatakan perlawanan, seperti tetapi.
Contoh : Kakakku sering mendapatkan
juara tetapi aku tidak pernah sama sekali.
c)
Konjungsi yang menyatakan pemilihan, seperti atau.
Contoh : Adik mau makan ikan bakar atau
ayam goreng?
2. Konjungsi
subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang
memiliki status sintaktis yang tidak sama. Konjungsi ini juga bisa disebut
dengan konjungsi bertingkat.
Macam-macamnya :
a)
Konjungsi yang menyatakan waktu, seperti sesudah, setelah, sebelum, sehabis,
sejak, selesai, ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi,
selama, hingga, dan sampai.
Contoh : Saya sedang makan ketika
ayah datang.
b)
Konjungsi yang menyatakan syarat, seperti jika, kalau, jikalau, asal(kan),
bila, dan manakala.
Contoh : Beritahu aku jika
kau akan datang.
c)
Konjungsi yang menyatakan pengandaian, seperti andaikan, seandainya,
andaikata, umpamanya, dan sekiranya.
Contoh : Saya akan pintar, seandainya
saya belajar.
d) Konjungsi
yang menyatakan tujuan, seperti agar, supaya, dan biar.
Contoh : Tutuplah jendela itu agar
tidak ada angin yang masuk.
e)
Konjungsi yang menyatakan konsesif, seperti biarpun, meskipun, sekalipun,
walaupun, sungguhpun, dan kendatipun.
Contoh : Aku akan pergi meskipun
hari ini hujan.
f)
Konjungsi yang menyatakan pemiripan, seperti seakan-akan, seolah-olah,
sebagaimana, seperti, sebagai, dan laksana.
Contoh : Dia adalah wanita yang seolah-olah
terlihat seperti pria.
g)
Konjungsi yang menyatakan sebab, seperti sebab, karena, dan oleh
karena.
Contoh : Andi dimarahi sebab
dia tidak disiplin.
h)
Konjungsi yang menyatakan akibat, seperti hingga, sehingga, sampai(-sampai),
dan maka(nya).
Contoh : Gunung Merapi meletus sampai-sampai
seluruh warga mengungsi.
i)
Konjungsi yang menyatakan penjelasan, seperti bahwa.
Contoh : Agus berkata bahwa
dia sudah mengerti.
3. Konjungsi
korelatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua kata, frasa, atau klausa
dan kedua unsur itu memiliki status sintaktis yang sama. Konjungsi korelatif
terdiri atas dua bagian yang dipisahkan oleh salah satu kata, frasa, atau
klausa yang dihubungkan.
Macam-macamnya :
a)
baik
…
maupun …
Contoh : Baik Adit maupun
Agi ingin kursus piano.
b)
tidak hanya
…, tetapi
(…) juga …
Contoh : Tidak hanya
kehilangan rumah, tetapi ia juga kehilangan seluruh keluarganya.
c)
bukan hanya
…,
melainkan …
Contoh : Bukan hanya buku
LKS yang dia bawa, melainkan juga membawa buku latihan.
d)
(se)demikian
(rupa) …
sehingga …
Contoh : Kakaknya belajar demikian
tekun, sehingga ia dapat peringkat pertama.
e)
apa(kah) …
atau …
Contoh : Apakah dia berkata
jujur atau tidak?
f)
entah
… entah …
Contoh : Entah ditanggapi entah
tidak, ia akan mengajukan usul itu.
g)
jangankan …,
… pun …
Contoh : Jangankan teriak,
berbicara pun suaranya tidak bisa keluar.
Langganan:
Postingan (Atom)
